Metode Pembelajaran

Metode Pembelajaran

Metode Pembelajaran
Pelaksanaan pengajaran di kelas berbasis pada “student centered learning method” dan “problem based learning method”, sehingga sebagian besar perkuliahan berupa seminar dan diskusi.
Merujuk pada Permenristekdikti no 44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, tanggal 28 Desember 2015, pasal 14, ayat (4) Setiap mata kuliah dapat menggunakan satu atau gabungan dari beberapa metode pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan diwadahi dalam suatu bentuk pembelajaran. (5) Bentuk pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat berupa:

  1. kuliah;
  2. responsi dan tutorial;
  3. seminar; dan
  4. praktikum, praktik studio, praktik bengkel, atau praktik lapangan.

Berbagai Metode pembelajaran yang dapat dipergunakan antara lain terdiri dari:

  1. Small Group Discussion (SGD).

Mahasiswa peserta kuliah dibagi dalam kelompok kecil ( 5 sampai 10 orang) untuk mendiskusikan suatu kasus pemicu (bahan) yang diberikan oleh dosen atau bahan yang diperoleh sendiri oleh anggota kelompok tersebut.

2. Simulasi/Demonstrasi

Simulasi adalah model pembelajaran yang membawa siyuasi yang mirip dengan sesungguhnya ke dalam kelas. Misalnya untuk mata kuliah Proyek Arsitektur Lanjut I dan II yang merupakan simulasi dari peroses perancangan arsitektur yang profesional.

3. Discovery Learning (DL)

Metoda belajar yang difokuskan pada pemanfaatan informasi yang tersedia, baik yang diberikan dosen maupun yang dicari sendiri oleh mahasiswa, untuk membangun pengetahuan dengan cara belajar mandiri.

4. Self-Directed Learning (SDL)

Proses belajar yang dilakukan atas inisiatif individu mahasiswa sendiri. Dalam hal ini, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani, dilakukan semuanya oleh individu yang bersangkutan.

5. Cooperative Learning (CL)

Metoda belajar berkelompok yang dirancang oleh dosen untuk memecahkan suatu masalah/kasus atau mengerjakan suatu tugas. Kelompok terdiri atas beberapa orang mahasiswa dengan kemampuan akademik yang beragam

6. Collaborative Learning (CbL)

Metode belajar yang menitik beratkan pada kerjasama antar mahasiswa yang didasarkan pada konsensus yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok. Masalah/tugas/kasus berasal dari dosen dan bersifat open-ended. Pembentukan kelompok, prosedur kerja kelompok, penentuan tempat dan waktu diskusi/kerja kelompok, sampai bagaimana hasil diskusi/kerja kelompok ingin dinilai oleh dosen ditentukan melalui konsensus bersama antar anggota kelompok.

7. Contextual Instruction (CI)

Konsep belajar yang membantu dosen mengitkan isi mata kuliah dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan memotivasi mahasiswa untuk membuat keterhubungan antara pengetahuan dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat, pelaku kerja profesional atau manajerial,  enterpreneur, maupun investor.

8. Project-Based Learning (PjBL)

Metode belajar yang sistematis, yang melibatkan mahasiswa dalam belajar pengetahuan dan ketErampilan melalui proses pencarian/penggalian (inquiry) yang panjang dan terstruktur terhadap pertanyaan yang otentik dan kompleks serta tugas dan produk yang dirancang dengan sangat hati-hati.

9. Problem-Based Learning/Inquiry (PBL/I)

Belajar dengan memanfaatkan masalah dan mahasiswa harus melakukan pencarian/penggalian informasi (inquiry) untuk memecahkan masalah tersebut. Pada umumnya terdapat empat langkah yang perlu dilakukan mahasiswa:

  • Menerima masalah yang relevan dengan salah satu atau beberapa kompetensi yang dituntut mata kulaih, dari dosen.
  • Melakukan pencarian data dan informasi yang relevan untuk memecahkan masalah.
  • Menata data dan mengaitkan data dengan masalah
  • Menganalisis strategi pemecahan masalah